Ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Tiongkok akhirnya menunjukkan tanda-tanda mereda. Setelah berminggu-minggu negosiasi intensif, perwakilan dari kedua negara mengumumkan adanya “konsensus dasar” dalam perundingan yang digelar di Malaysia — sebuah langkah yang menandai titik balik penting dalam hubungan ekonomi dua kekuatan terbesar dunia ini.
Terobosan diplomatik ini terjadi hanya beberapa hari menjelang pertemuan puncak penting antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Seoul, yang diperkirakan akan menentukan arah kebijakan perdagangan global di masa depan.
Dalam pernyataannya, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menggambarkan hasil diskusi tersebut sebagai “sangat baik dan produktif”, menandakan adanya kemajuan nyata setelah bertahun-tahun ketegangan tarif dan perang dagang yang mengguncang pasar dunia.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan Tiongkok juga mengonfirmasi bahwa pembicaraan berlangsung konstruktif, dengan kedua pihak membahas isu-isu utama seperti tarif impor, perlindungan teknologi, dan stabilitas mata uang.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Beijing dan Washington kini berupaya menghindari konfrontasi ekonomi lebih lanjut, terutama di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.
Salah satu sorotan utama dari hasil perundingan ini adalah pencabutan ancaman tarif 100% terhadap produk-produk Tiongkok yang sebelumnya diajukan oleh Trump.
Kebijakan tersebut, jika diterapkan, bisa memicu gelombang inflasi dan gangguan besar pada rantai pasok global. Namun, dengan dihapuskannya ancaman itu, pasar internasional mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, sementara investor global menyambut positif perkembangan ini.
Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa “konsensus dasar” belum berarti kesepakatan final. Masih ada sejumlah isu sensitif — seperti hak kekayaan intelektual, subsidi industri, dan akses pasar — yang harus diselesaikan di meja perundingan tingkat tinggi mendatang.
Pertemuan Trump–Xi di Seoul disebut-sebut sebagai ujian nyata bagi kedua pemimpin, apakah mereka benar-benar mampu membawa hubungan ekonomi dunia ke arah stabilitas, atau justru kembali ke jurang rivalitas dagang yang lama.
Untuk saat ini, dunia menahan napas, menantikan hasil pertemuan dua pemimpin paling berpengaruh di bumi ini.
Apakah ini awal dari babak baru perdamaian ekonomi global, atau sekadar jeda sebelum babak berikutnya dari perang dagang terbesar abad ini?
