Langkah mengejutkan datang dari Washington.
Untuk pertama kalinya, Amerika Serikat mengerahkan pesawat nirawak pengintainya sendiri di atas wilayah Gaza, guna memantau langsung pelanggaran terhadap gencatan senjata yang masih rapuh.
Menurut laporan The New York Times, langkah ini menandai perubahan besar dalam strategi intelijen Amerika — di mana Washington kini ingin memverifikasi peristiwa secara independen, tanpa sepenuhnya bergantung pada laporan dari Tel Aviv.
Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa pemerintahan Trump menginginkan kontrol langsung atas informasi di lapangan, terutama setelah meningkatnya klaim pelanggaran dari kedua belah pihak.
Namun, lokasi pengoperasian drone-drone tersebut belum diungkapkan secara resmi, memicu spekulasi apakah Amerika menjalankan misi ini dari kapal perang di Laut Tengah atau pangkalan militer sekutunya di kawasan.
Di sisi lain, Hamas menuduh Israel telah melanggar gencatan senjata sebanyak 47 kali sejak awal Oktober, termasuk melalui serangan udara terbatas dan pelanggaran zona demiliterisasi.
Klaim ini menimbulkan kekhawatiran bahwa situasi Gaza dapat kembali memanas sewaktu-waktu jika pelanggaran terus berlanjut.
Mantan Duta Besar AS untuk Israel, Daniel Shapiro, menyebut langkah ini sebagai “tindakan yang sangat mengganggu”, menandakan menurunnya tingkat kepercayaan Washington terhadap Tel Aviv dalam hal pelaporan situasi lapangan.
Meski demikian, Shapiro menegaskan bahwa Israel masih memandang Hamas sebagai ancaman utama terhadap keamanan nasionalnya, dan bahwa langkah Amerika tidak serta-merta berarti perubahan kebijakan strategis.
Langkah pengawasan udara ini sekaligus menunjukkan ketegangan halus dalam hubungan AS–Israel, yang kini diuji oleh realitas baru di Gaza:
gencatan senjata yang rapuh, diplomasi yang rumit, dan bayangan perang yang belum benar-benar berakhir.
