Breaking

Minggu, 26 Oktober 2025

Tim Penyelamat Mesir Masuki Gaza: bekerja sama dengan Hamas dalam Misi Berisiko Cari 13 Jenazah Sandera Israel

 


Untuk pertama kalinya sejak perang Gaza meletus, tim penyelamat Mesir resmi memasuki Jalur Gaza dalam misi kemanusiaan yang sangat sensitif — mencari dan mengevakuasi 13 jenazah sandera Israel yang dilaporkan tewas selama konflik.

Menurut laporan dari beberapa sumber, para ahli Mesir datang dengan peralatan canggih, termasuk radar penembus tanah, detektor logam, dan kendaraan penggali berat, guna melacak lokasi-lokasi pemakaman di bawah reruntuhan.
Mereka bekerja dalam koordinasi langsung dengan Hamas dan pejabat keamanan Israel, sebuah langkah yang jarang terjadi di tengah ketegangan diplomatik dan militer yang masih membara.


Media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara pribadi memberikan izin atas misi tersebut, setelah Hamas mengaku mengalami kesulitan menemukan lokasi pasti jenazah para sandera.
Langkah ini menandai pergeseran sementara dalam dinamika konflik, di mana kedua pihak, meskipun masih bermusuhan, terpaksa membuka jalur komunikasi kemanusiaan.

Sumber-sumber di Kairo menyebutkan bahwa tim Mesir terdiri dari insinyur militer dan petugas forensik, dengan pengalaman panjang dalam operasi penyelamatan pascaperang di wilayah berisiko tinggi.
Misi ini bukan hanya soal kemanusiaan, tetapi juga ujian diplomatik bagi Mesir, yang selama ini menjadi mediator utama antara Israel dan Hamas.


Namun, banyak pengamat menilai, di balik upaya ini, terdapat tekanan kuat dari Washington dan PBB agar semua pihak mematuhi gencatan senjata dan mempercepat proses pengembalian jenazah.
Situasi ini menyoroti rapuhnya perdamaian di Gaza — di mana setiap langkah kemanusiaan sekalipun tetap sarat kepentingan politik dan risiko keamanan.