Breaking

Kamis, 23 Oktober 2025

Gaza Pascaperang: Netanyahu Tolak Usulan Turki dan Mesir, Pilih Jalannya Sendiri


 Tel Aviv — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan sikap kerasnya terkait masa depan Gaza.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis kantornya, Netanyahu menolak tegas gagasan kehadiran pasukan Turki atau pasukan penjaga perdamaian internasional di wilayah Gaza setelah perang berakhir.


Pernyataan ini muncul setelah laporan Sky News Arabia menyebut adanya ketegangan dalam perundingan tingkat tinggi antara Israel, Mesir, dan pihak-pihak regional lainnya, termasuk Turki.
Laporan itu mengindikasikan bahwa Ankara dan Kairo tengah mendorong pembentukan pasukan keamanan gabungan — termasuk personel dari Turki dan pasukan Otoritas Palestina yang dilatih oleh Mesir dan Yordania — untuk menjaga stabilitas Gaza pascaperang.


Namun, Netanyahu langsung membantah dan menepis kemungkinan tersebut.
Kantor Perdana Menteri menyatakan secara gamblang bahwa:

Tidak akan ada keterlibatan Turki di Gaza.”

Sikap ini menegaskan kembali pandangan lama Netanyahu:
Gaza hanya boleh berada di bawah kendali penuh Israel, baik dalam aspek keamanan maupun administrasi, setidaknya sampai Hamas benar-benar dilucuti dari seluruh kekuatan militernya.


Menurut sumber diplomatik, penolakan Netanyahu ini bisa memperburuk ketegangan dengan Mesir — yang selama ini berperan penting sebagai mediator — dan juga memperlebar jurang perbedaan dengan Washington, yang mendorong adanya pengaturan pascaperang yang lebih inklusif.


Turki sendiri, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan, telah beberapa kali menawarkan peran aktif dalam proses rekonstruksi Gaza dan menjamin keamanan warga sipil Palestina.
Namun, hubungan Ankara–Tel Aviv memang sudah lama rapuh, terutama setelah sikap keras Erdoğan terhadap serangan Israel di Gaza.

Kini, dengan pernyataan terbaru Netanyahu, masa depan Gaza kembali berada di pusaran politik yang rumit.


Israel bersikeras ingin mempertahankan kendali penuh, sementara negara-negara kawasan menuntut pendekatan multilateral untuk mencegah kekacauan baru.

Pertanyaannya:
Apakah Gaza akan menjadi wilayah di bawah pengawasan internasional…
atau tetap menjadi zona tertutup di bawah kendali Israel sepenuhnya?

Satu hal jelas —
kedamaian pascaperang Gaza masih jauh dari kata pasti.