Dalam langkah yang mengejutkan dunia internasional, pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayya, mengumumkan perubahan besar dalam kebijakan Gaza. Untuk pertama kalinya, Hamas secara terbuka menyatakan dukungan terhadap pengerahan pasukan pemantau PBB guna mengawasi pelaksanaan gencatan senjata dengan Israel.
Pernyataan ini menandai babak baru dalam upaya diplomatik Palestina, sekaligus sinyal perubahan strategi dari kelompok yang selama ini dikenal keras menolak kehadiran pasukan asing di wilayahnya.
Menurut laporan dari Gaza City, inisiatif ini mendapat dukungan luas dari berbagai faksi Palestina, termasuk kelompok yang berbasis di Tepi Barat. Dalam rencana tersebut, pasukan pemantau PBB akan terdiri dari perwakilan negara-negara Muslim, antara lain Indonesia, Pakistan, Turki, dan Azerbaijan, yang akan ditugaskan mengamankan perbatasan Gaza serta memantau pergerakan militer Israel.
Al-Hayya menyebut langkah ini sebagai “jalan menuju stabilitas dan rekonstruksi Gaza,” seraya mendesak bantuan internasional segera untuk membangun kembali wilayah yang hancur akibat perang panjang. Ia juga menegaskan pentingnya persatuan nasional antara Gaza dan Tepi Barat, serta menyerukan agar seluruh kelompok Palestina bekerja di bawah satu pemerintahan pascaperang yang kuat dan mandiri.
Langkah bersejarah Hamas ini bertepatan dengan inisiatif Washington untuk memverifikasi gencatan senjata yang telah disepakati secara tentatif beberapa pekan terakhir.
Sumber diplomatik menyebut bahwa pesawat nirawak AS kini beroperasi di langit Gaza, memantau pergerakan di lapangan untuk memastikan kepatuhan kedua pihak terhadap perjanjian damai sementara.
Namun, di balik optimisme ini, sejumlah analis memperingatkan bahwa kehadiran pasukan PBB di Gaza dapat menimbulkan tantangan politik baru, terutama jika Israel menilai pengerahan tersebut sebagai ancaman terhadap keamanannya.
Meski demikian, pemerintahan Trump dikabarkan mendorong Israel untuk menegakkan gencatan senjata, sembari merancang rencana stabilisasi Gaza yang lebih permanen bersama mitra regional.
Bagi banyak pengamat, dukungan Hamas terhadap pasukan pemantau internasional menandai pergeseran strategis yang signifikan — dari perlawanan militer menuju pendekatan diplomatik dan rekonstruktif.
Jika berhasil, inisiatif ini bisa menjadi awal baru bagi Gaza, membuka peluang rekonsiliasi internal Palestina dan mengakhiri salah satu konflik paling panjang di Timur Tengah.
