Kawasan Karibia kembali menjadi sorotan dunia setelah kapal perusak USS Gravely milik Amerika Serikat terlihat berlayar hanya 10 kilometer dari pantai Venezuela.
Langkah ini segera memicu gelombang kecemasan regional, terutama di tengah meningkatnya tekanan militer Washington terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro.
Menurut laporan resmi, USS Gravely ditempatkan di Trinidad & Tobago sebagai bagian dari latihan gabungan antara Angkatan Laut AS dan pasukan setempat. Namun, sejumlah pengamat menilai pengerahan itu jauh melampaui tujuan latihan biasa.
Bersamaan dengan kedatangan kapal perang tersebut, operasi antinarkotika AS di kawasan Karibia juga diperluas, sementara aktivitas CIA dilaporkan meningkat secara signifikan — memperkuat dugaan bahwa Washington sedang mempersiapkan operasi yang lebih besar di sekitar perairan Venezuela.
Langkah ini menimbulkan ketegangan diplomatik baru. Presiden Maduro menuduh Amerika Serikat “memalsukan perang” untuk menciptakan dalih intervensi militer terhadap negaranya. Dalam pidatonya di Caracas, ia menegaskan bahwa Venezuela tidak akan tunduk pada ancaman atau provokasi apa pun dan menuduh AS berupaya menggulingkan pemerintahannya dengan cara yang terselubung.
Para analis internasional memperingatkan bahwa situasi di Karibia kini berada di titik paling berisiko dalam beberapa dekade terakhir. Dengan kapal perang AS hanya beberapa menit dari wilayah Venezuela, setiap salah perhitungan atau insiden kecil di laut bisa memicu konfrontasi langsung antara kedua negara.
Beberapa diplomat di PBB bahkan menyebut langkah AS ini sebagai “uji batas baru” terhadap kedaulatan Venezuela dan stabilitas kawasan Amerika Latin.
Washington sendiri berdalih bahwa pengerahan USS Gravely merupakan bagian dari upaya melawan jaringan perdagangan narkoba transnasional yang beroperasi di perairan Karibia. Namun, para kritikus menilai argumen itu tidak cukup meyakinkan — apalagi di tengah meningkatnya ketegangan politik menjelang pertemuan puncak regional di Panama.
Dengan situasi yang terus memanas, Karibia kini menjadi panggung baru dalam perebutan pengaruh antara Washington dan Caracas.
Bagi sebagian pihak, ini hanyalah latihan militer biasa; namun bagi yang lain, ini adalah tanda awal dari potensi intervensi paling serius AS terhadap Venezuela sejak krisis 2019.
