Dubai — sebuah simbol kemakmuran, diplomasi, dan modernitas di Timur Tengah.
Namun di balik cahaya menara megahnya...
sebuah percakapan rahasia mengguncang hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab.
Menurut laporan Channel 12, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, baru-baru ini menerima telepon peringatan dari seorang pejabat senior UEA — sebuah pesan yang sangat jelas:
“Jangan hancurkan Perjanjian Abraham.”
Telepon itu terjadi saat Smotrich singgah di Dubai dalam perjalanan diplomatik.
Namun bukan sambutan hangat yang ia terima, melainkan peringatan keras tentang masa depan hubungan Israel–Arab.
Pejabat Emirat tersebut menegaskan,
bahwa komentar Smotrich yang mengejek Arab Saudi dan menolak normalisasi kecuali ada negara Palestina,
telah mencederai semangat kerja sama yang dibangun sejak 2020.
Perjanjian Abraham — tonggak sejarah yang menandai babak baru perdamaian Timur Tengah — kini berada di ujung tanduk.
Sikap keras politisi sayap kanan Israel seperti Smotrich
membuat sekutu-sekutu Arab mulai meragukan niat Tel Aviv.
Di Abu Dhabi, para diplomat mulai resah.
Mereka tahu, jika hubungan dengan Israel retak,
dampaknya bisa menjalar ke ekonomi, keamanan, dan stabilitas kawasan.
Sementara di Yerusalem, Smotrich tetap bergeming.
Ia menegaskan, tidak akan mendukung normalisasi tanpa “pengakuan penuh terhadap Israel sebagai negara Yahudi.”
Namun bagi dunia Arab,
kata-kata itu terdengar seperti ancaman terhadap masa depan diplomasi Timur Tengah.
Kini, seluruh mata tertuju pada Benjamin Netanyahu,
yang harus menyeimbangkan antara tekanan dari koalisi sayap kanan dan hubungan dengan sekutu Arab yang mulai rapuh.
Apakah Israel akan mempertahankan warisan Perjanjian Abraham?
Atau membiarkan ambisi politik internal
menghancurkan jembatan yang baru saja dibangun?
Satu hal pasti —
telepon dari Dubai hanyalah peringatan pertama,
dalam babak baru diplomasi yang rapuh...
antara Tel Aviv dan dunia Arab.
