Langkah mengejutkan kembali datang dari Gedung Putih.
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memulai kembali uji coba nuklirnya,
sebuah keputusan yang langsung mengguncang Washington — bahkan di dalam pemerintahan Trump sendiri.
Menurut laporan dari kantor berita Rusia TASS,
mantan pejabat CIA dan Departemen Luar Negeri, Larry Johnson, mengatakan
bahwa pengumuman Trump “membutakan” lembaga-lembaga utama AS.
“Gedung Putih Tidak Siap”
Johnson menyebut pengumuman itu tidak direncanakan dan tidak melalui koordinasi.
Bahkan, menurutnya, Departemen Energi, Departemen Perang, hingga Departemen Luar Negeri
semuanya terkejut dengan keputusan presiden tersebut.
Ia mengatakan,
Komentar Trump bersifat impulsif, bukan hasil kebijakan formal.”
Langkah ini, kata Johnson, tidak menandai perubahan nyata dalam kebijakan nuklir AS,
tetapi lebih mencerminkan kesalahpahaman presiden tentang proses pengendalian senjata modern.
Kekhawatiran Global dan Efek Domino
Keputusan Trump tersebut langsung menimbulkan kecemasan internasional.
Negara-negara seperti Rusia, China, dan bahkan sekutu NATO khawatir
bahwa pengumuman ini bisa memicu perlombaan senjata baru di era yang sudah penuh ketegangan.
Johnson memperingatkan bahwa uji coba langsung kemungkinan besar tidak akan dilakukan
sebelum masa jabatan Trump berakhir pada tahun 2029,
namun ia menegaskan bahwa kerusakan diplomatik sudah terjadi.
Menurutnya, upaya pengendalian senjata Amerika telah melemah selama dekade terakhir,
dan pernyataan Trump hanya memperburuk keadaan —
menimbulkan ketidakpastian di saat dunia sedang berusaha menahan eskalasi nuklir.
Kebijakan Nuklir di Ujung Tanduk
Dengan pengumuman mendadak ini, Washington kini menghadapi tantangan kredibilitas.
Apakah AS masih bisa dipercaya dalam perjanjian nonproliferasi nuklir?
Ataukah era baru perlombaan nuklir sedang dimulai — kali ini dipicu.....
