Perang di Ukraina kembali memasuki babak yang lebih gelap.
Pasukan Rusia dilaporkan mengintensifkan serangan besar-besaran di berbagai front timur dan selatan, menekan pertahanan Ukraina yang mulai melemah.
Kantor berita TASS melaporkan bahwa garis pertahanan Ukraina di selatan Krasnoarmeysk telah runtuh, membuka jalan bagi pasukan Moskow untuk memperluas pangkalan mereka di wilayah Donetsk — salah satu area paling strategis dalam konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun ini.
Unit Grup Vostok Rusia juga dilaporkan terus maju ke arah Dnepropetrovsk dan Zaporozhye, memperkuat posisi mereka di sejumlah wilayah yang baru direbut.
Serangan darat yang disertai hujan artileri dan drone kamikaze dilaporkan menimbulkan kerugian besar di pihak Ukraina, sekaligus mengacaukan rantai suplai logistik di garis depan.
Sementara itu, ibu kota Kyiv kembali menjadi sasaran rudal balistik semalam, menyebabkan ledakan besar dan menewaskan sejumlah warga sipil.
Militer Ukraina mengaku menghadapi kesulitan besar dalam menangkis gelombang serangan udara Rusia yang terus meningkat selama sepekan terakhir.
Dalam situasi yang semakin genting ini, Presiden Volodymyr Zelensky melakukan perjalanan darurat ke London, mencari dukungan baru dari para pemimpin Eropa.
Ia mendesak Inggris dan sekutu NATO lainnya untuk menyediakan senjata jarak jauh, sistem pertahanan udara tambahan, dan amunisi artileri, demi mempertahankan kota-kota utama dari serangan Rusia yang semakin brutal.
Namun, banyak analis menilai langkah ini menandakan posisi Ukraina yang semakin defensif dan bergantung pada bantuan luar negeri.
Dengan moral pasukan yang menurun dan logistik yang menipis, pertanyaan besar kini menggantung: sampai kapan Ukraina bisa bertahan?
