Breaking

Senin, 13 Oktober 2025

Trump Serang Tony Blair: “Gagal di Irak, Tak Layak Pimpin Gaza!” — Hamas Menang Dua Kali dalam Sehari

 


Dunia politik Timur Tengah kembali diguncang.
Hanya berselang beberapa jam setelah Hamas mengumumkan kemenangan diplomatik dalam negosiasi gencatan senjata, datang berita mengejutkan dari Washington: Donald Trump, presiden Amerika Serikat, secara terbuka “menyingkirkan” Tony Blair dari wacana kepemimpinan sipil Gaza—yang selama ini didorong oleh Barat.

Langkah itu menandai kemenangan simbolis kedua bagi Hamas dalam satu hari.

 Konteks Awal
Selama beberapa pekan terakhir, nama mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, tiba-tiba kembali mencuat. Ia disebut-sebut akan memimpin “Dewan Pemulihan Gaza” — sebuah proyek yang dirancang AS, Uni Eropa, dan Israel untuk mengelola Gaza setelah perang.
Namun, kabar itu justru memicu amarah di kalangan masyarakat Palestina. Hamas dan Jihad Islam menolak keras ide tersebut, menyebutnya “penjajahan politik dalam bentuk baru.”

Peringatan Palestina
Dalam pernyataannya minggu lalu, Hamas memperingatkan:

" Setiap upaya menempatkan figur Barat untuk memimpin Gaza adalah penghinaan terhadap darah para syuhada.”

Peringatan itu rupanya menggema hingga ke telinga Washington.
Trump, yang tengah berupaya merebut kembali simpati dunia Arab menjelang pemilu, langsung menanggapi isu itu dengan nada tegas. Dalam wawancara eksklusif dengan media konservatif AS, ia menyebut Tony Blair sebagai “figura gagal yang tidak pantas mengatur Gaza.”

Trump Menyerang Blair
Trump mengatakan:

“Blair punya catatan buruk di Irak. Dunia tidak butuh birokrat tua Inggris untuk memimpin Gaza. Kita butuh orang-orang yang memahami realitas di lapangan.”

Komentar itu bukan hanya menampar Blair, tapi juga memalukan bagi Inggris dan Uni Eropa yang selama ini mendukung rencana tersebut. Sejumlah diplomat Eropa bahkan menyebut langkah Trump sebagai “penghancuran diplomasi dalam satu kalimat.”

Namun di Timur Tengah, reaksi yang muncul justru sebaliknya.
Para analis menyebut pernyataan Trump sebagai “kemenangan naratif” bagi Hamas — karena menunjukkan bahwa suara Palestina kini tak lagi bisa diabaikan oleh Washington.

Washington Mulai Mengubah Nada
Sumber-sumber diplomatik di Washington menyebut, tim kampanye Trump kini sedang menyusun “rencana baru Gaza” yang tidak melibatkan figur Barat sama sekali.
Sebaliknya, mereka dikabarkan akan mendukung “struktur lokal yang diakui rakyat Gaza sendiri,” termasuk beberapa nama yang memiliki kedekatan dengan kelompok perlawanan.

Langkah itu secara tak langsung menjadi pengakuan terhadap kekuatan politik Hamas di lapangan — sesuatu yang selama bertahun-tahun ditolak oleh Amerika Serikat dan Israel.

Reaksi Israel dan Inggris
Dari Tel Aviv, reaksi datang cepat.
Kantor Perdana Menteri Israel menolak keras sikap Trump. Netanyahu menyebut pernyataan itu “berbahaya” dan “tidak bertanggung jawab.”
Sementara di London, Tony Blair Institute mengeluarkan tanggapan dingin:

“Blair tetap berkomitmen terhadap stabilitas dan perdamaian kawasan. Ia tidak menanggapi komentar politik kampanye.”

Namun di lapangan, narasi sudah berubah.
Bagi rakyat Palestina, ini adalah tanda bahwa dunia akhirnya mulai mendengar suara mereka — bahkan dari tokoh yang sebelumnya dikenal pro-Israel....